Media Komunikasi, Pembinaan, dan Pelayanan
Lukas 23:44-48
02-Apr-2021 | Pdt. Irvan Hutasoit, M.Th

Dalam tradisi Yahudi, ada sebuah tempat yang dikhususkan bagi orang mati. Tempat itu bernama sheol. Tempat ini diyakini penuh dengan keheningan dan gelap gulita. Disana juga tidak ada hikmat dan pengentahuan. Nyanyian pujian pada Tuhanpun tidak ada disana. Disana menjadi tempat orang baik dan orang jahat bila sudah mati. Sehingga kematian ibaratnya ujung lorong kehidupan yang mengakhiri kehidupan. Itulah sebabnya hingga sekarang, Yudaisme masih menanti keselamatan.
Hari ini kita kembali merenungkan kematian Yesus di kayu salib. Bacaan hari ini dengan tegas menggambarkan proses akhir kehidupanNya, menjelang kematianNya. Menurut kesaksian injil Lukas, kematian Yesus disertai dengan tanda-tanda alam. Saat itu kira-kira pukul dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu. Matahari tidak bersinar, dan tabir bait suci terbelah dua. Di saat itu juga, Yesus bersuara nyaring berseru: “Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu” Di saat itu juga ada pengakuan dari kepala pasukan yang ada di tempat itu bahwa Yesus sungguh-sungguh orang benar.
Kalau kita memaknai kematian Yesus dari perspektif kematian menurut Yahudi, maka Yesus diibaratkan sedang memasuki lorong kegelapan dan keheningan. Suatu tempat yang di dalamnya tidak ada harapan dan masa depan. Suatu tempat yang menunjukkan keberakhiran segala sesuatu. Tetapi, bila kematian Yesus kita pahami dari kebangkitanNya, maka dapat disimpulkan bahwa kematian Yesus hendak mengubah kematian itu dari keberakhiran menjadi keberlanjutan. Yesus mengubah kematian itu dari sebuah tempat yang gelap dan hening, menjadi tempat yang menampakkan harapan dan berkas cahaya. Pendeknya, kematian Yesus ingin mengubah keputusasaan menjadi pengharapan.
Seorang teolog berdarah Jerman, Jurgen Moltmann, memberi penjelasan yang menarik tentang kematian Yesus di salib. Dia menjelaskan bahwa kematian Yesus merupakan solidaritas Allah bersama manusia. Bahkan, Moltmann lebih tajam lagi menjelaskan bahwa kematian Yesus itu wujud nyata kehadiran Allah dalam kehidupan manusia. Allah ingin mengubah penderitaan manusia saat ini menjadi sukacita di masa akan datang. Allah ingin mengubah keputusasaan menjadi pengharapan. Yesus mentransformasi keberakhiran menjadi keberlanjutan. Artinya, kondisi sekarang belumlah akhir dari segala sesuatu sebab masa kini masih berlanjut pada masa akan datang.
Justru disinilah letak kasih sayang dan kebaikan Allah. Dia mempertaruhkan nyawaNya untuk memberi masa depan bagi manusia. Kalau kita merujuk pada teks ini, kebaikan Allah tersebut berhasil menggemparkan semesta. Bahkan, kebaikan Allah itu berhasil meluluhkan kekerasan hati seorang kepala pasukan itu sehingga melahirkan pengakuan akan kebaikan Allah. Artinya, kebaikan Allah itu tidak berada di ruang kosong, tetapi justru mampu mengubah kenyataan yang ada.
Maka bacaan Jumat Agung ini perlu kita refleksikan pada kondisi kekinian. Di tengah ragam tantangan kehidupan yang sedang menerpa kita berupa pandemi Covid-19 yang belum berakhir dan masih berada di sekitar mengancam kelangsungan hidup kita bersama. Belum lagi, ancaman kekerasan dengan dalih ajaran agama kembali merebak serta tantangan-tantangan kehidupan lainnya. Mungkin kita bertanya dalam hati, bagaimana masa depan hidup kita?
Pertanyaan itu akan mendapat menjawab bila perspektif yang dipakai kematian Yesus. Seperti dijelaskan tadi bahwa kematian Yesus mengubah keberakhiran menjadi keberlanjutan. Kematian Yesus mentransformasi keputusasaan menjadi pengharapan. Dengan demikian, menghadapi masa-masa sulit saat ini kita harus berani berkata bahwa situasi sekarang belumlah akhir dari segala sesuatu. Karena situasi sulit ini belum akhir dari segala sesuatu, maka kehidupan masih berlanjut. Bila hidup masih berlanjut meskipun ada situasi sulit sedang dihadapi, maka kita perlu menjalani kehidupan dengan pengharapan. Dalam rangka keberlanjutan hidup tersebut, maka perkataan Yesus di salib itu menjadi perkataan kita saat ini, “Ya Bapa ke dalam tanganMu kuserahkan hidupku” Perkataan itu akan menguatkan dan meneguhkan kita menghadapi setiap masa-masa sulit yang kita hadapi di dunia ini. Tuhanlah yang menguatkan dan meneguhkan kita.
Ngehshajs ddjdkdj
Posting tanggal: 29-Apr-2025
Ngehshajs ddjdkdj
Posting tanggal: 29-Apr-2025
Ngehshajs ddjdkdj
Posting tanggal: 29-Apr-2025
Ngehshajs
Posting tanggal: 28-Apr-2025
BUKAN KEBERAKHIRAN TETAPI KEBERLANJUTAN
Posting tanggal: 02-Apr-2021
TENTANG INKARNASI
Posting tanggal: 25-Mar-2021
DIA HADIR DALAM HIDUP KITA
Posting tanggal: 24-Mar-2021
HIDUP ADALAH KESEMPATAN MEMULIAKAN TUHAN
Posting tanggal: 23-Mar-2021
SIAPA TUHAN ?
Posting tanggal: 19-Mar-2021
BERTOBATLAH
Posting tanggal: 18-Mar-2021