Ketika seseorang dalam bahaya, ada sandi yang berlaku secara internasional untuk memberitakan kondisi bahaya tersebut. Sandi itu disebut SOS. Dalam bahasa Inggris, SOS adalah singkatan atau akronim dari Save Our Souls. Dalam Bahasa Indonesia, dapat diartikan dengan: Selamatkan Jiwa/Nyawa Kami. Sandi tersebut merupakan kode Morse, yang bila muncul maka siapapun orang terdekat memiliki kewajiban untuk menolong atau membantu orang dalam keadaan bahaya tersebut, sebab ada orang lain yang membutuhkan pertolongan kita.
Pada hari ini, kita telah memasuki Minggu Palmarum. Minggu ini mengingatkan kita pada Yesus yang datang ke Yerusalem sebelum perayaan Paskah Yahudi. Kita tahu bersama, bahwa itulah kunjungan Yesus terakhir ke kota tersebut. Sebab dalam beberapa hari ke depan, Dia ditangkap, diadili, dan disalibkan. Menariknya, kedatangan Yesus ke Yerusalem tidak dianggap sebagai musuh. Bahkan, penyambutanNya ibarat kedatangan seorang raja. Beberap teks dalam kitab Injil mengatakan itu, misalnya Lukas 19:28-38. Dalam sambutan itu, Yesus dikatakan sebagai Raja.
Biasanya, penyambutan penduduk Yerusalem seperti yang dilakukan kepada Yesus adalah penyambutan kedatangan seorang Raja yang pulang dari medang perang dan membawa kemenangan. Ketika orang-orang meletakkan kain dan daun palma untuk dilintasi oleh sang Raja, maka itu berarti bahwa mereka menyerahkan diri mereka agar dilindungi oleh raja tersebut. Maka, ketika penduduk Yerusalem melakukan penyambutan raja kepada Yesus yang datang ke Yerusalem, itu artinya, mereka menyerahkan diri dalam perlindungan Tuhan. Meskipun dalam beberapa hari ke depan, penduduk Yerusalem pula yang berterika dan mendesak Pilatus agar Yesus disalibkan.
Dalam kalender gereja, minggu Palmarum adalah hari pertama untuk mengenang sengsara Yesus. Sesudah minggu Palmarum, maka kita akan memasuki beberapa peristiwa penting dalam kehidupan Yesus. Mulai dari peringatan perjamuan malam dan pembasuhan kaki yang dilakukan melalui ibadah Kamis Putih. Kemudian peringatan pada peristiwa kematian Yesus, melalui ibadah Jumat Agung. Dan berakhir pada, peringatan kebangkitan Yesus melalui ibadah Paskah. Semuanya itu bertujuan untuk menenguhkan iman kita pada karya penyelamatan Allah dalam Kristus yang menderita tetapi menang. Artinya, minggu Palmarum adalah momentum untuk menyerahkan diri pada perlindungan Tuhan, karena Dialah yang berkuasa untuk menyelamatkan jiwa kita. Atas dasar itu pula, kami mengajak anggota jemaat agar berpartisipasi dalam rangkaian ibadah sengsara dan kebangkitan Yesus.
Pada minggu Palmarum hari ini, kita disegarkan oleh firman Tuhan. Mazmur 31:8 berkata, “Aku akan bersorak-sorak dan bersukacita karena kasih setiaMu, sebab Engkau menilik sengsaraku”. Bacaan ini adalah satu kesatuan dalam perikop berjudul Aman dalam tangan TUHAN. Itu menandakan bahwa Pemazmur meyakini bahwa dirinya aman dalam lindungan Tuhan. Perlindungan Tuhan yang bisa kita pahami dari bacaan ini tidak hanya berupa atau seperti perlindungan seorang tentara melalui persenjataan di tengannya. Tetapi perlindungan yang diakui oleh Pemamzur ialah, Tuhan yang mau mendengar kesengsaraan yang dialaminya.
Sepertinya Pemazmur saat itu sedang mengalami kegundahan hati. Hatinya berduka, ibarat sedang disayat oleh penderitaan yang luar biasa. Hal itu terlihat jelas pada ayat 11. Pemazmur berkata, “Sebab hidupku habis dalam duka… kekuatanku merosot karena sengsaraku…” Artinya, Pemazmur mengalami gejolak batin luar biasa akibat duka dan sengsara yang sedang dia hadapi. Bahkan, sengsara itu kemungkinan besar membuatnya tidak berdaya, bahkan patah semangat. Seolah-olah, tidak ada lagi orang yang mendengar dan mendampinginya seperti dikatakan pada ayat 12, “Di hadapan semua lawanku aku tercela…”
Keadaan seperti itu tidak membuat Pemazmur patah arang. Dia yakin, meskipun banyak orang mencela bahkan menghindarinya, tetapi dia yakin bahwa Tuhan ada bersamanya. Tuhan memperhatikan kesesakan yang dia hadapi. Akibat keyakinan seperti itu, Pemazmur berkata, “Engkaulah Allahku1” (ayat 15).
Tentunya, cara beriman Pemazmur ini menjadi catatan penting bagi kita pada perayaan Palmarum. Dapatlah kita yakini, bahwa kedatangan Yesus ke Yerusalem (pasti Dia sudah mengetahui bahwa di kota itulah penderitaan akan dialamiNya) adalah kedatangan Yesus pada kehidupan kita. Dia datang ke Yerusalem untuk mati. Kita ketahui bersama bahwa kematian diibaratkan sebagai maut dan karenanya ditakuti oleh semua orang. Namun, Yesus datang pada kematian itu; masuk pada situasi yang paling ditakuti oleh manusia. Itu artinya, Yesus setia mendengarkan, memperhatikan, bahkan peduli pada segala hal yang menakutkan, menggelisahkan, dan mendukakan hati kita. Dia tidak pernah menarik diri dari duka dan derita kita. Dia bahkan sebaliknya, Dia memasuki derita dan duka kita.
Karena itulah, seperti sambutan penduduk Yerusalem pada Yesus, maka itupulalah sambutan yang harus kita lakukan setiap hari. Baiklah kita selalu menyambut Yesus dalam hidup sehari-hari kita sebab bacaan hari ini menjadi catatan penting bagi kita, Dia peduli, mendengarkan, dan hadir dalam derita dan duka kita. Tetapi, janganlah kita seperti penduduk Yerusalem yang beberapa hari kemudian ikut berteriak, “Salibkan Dia”. Tuhan memberkati kita.
| NO | JUDUL | KATEGORI | TANGGAL | AKSI |
|---|---|---|---|---|
| 1 | HACKED BY F4Y-XPLOIT | Opini | 24-12-2024 | Lihat |
| 2 | L | Materi Calon Penatua | 16-01-2023 | Lihat |
| 3 | Memek | Sermon Penatua | 16-01-2023 | Lihat |
| 4 | PASKAH DAN INJIL | Opini | 03-04-2021 | Lihat |
| 5 | JANGAN IKUT MENYALIBKAN YESUS | Opini | 28-03-2021 | Lihat |