Beranda Rencana Pelayanan Data Jemaat P3I GKPI Program Pembinaan Statistik & Keuangan Pusat Unduhan


BAHAN PEMBINAAN


PASKAH DAN INJIL

(Markus 16:9-18)
Pdt. Irvan Hutasoit, M.Th

Sungguh menarik membaca kisah kebangkitan Yesus, atau lazimnya kita sebut dengan Paskah. Injil Markus ini menceritakan bahwa kebangkitan Yesus langsung dirangkai dengan perutusan. Sementara pada Injil lainnya, seperti Matius yang juga berisikan Amanat Agung orang percaya , yaitu perutusan untuk mengabarkan Injil, dijelaskan bahwa masih ada beberapa waktu lamanya murid-murid bersama Yesus melakukan berbagai aktifitas antara kebangkitan dan kenaikan ke sorga. Namun, baiklah kita langsung melihat aspek menarik pada laporan kebangkitan menurut injil Markus kali ini.

Dikatakan disana bahwa pada hari pertama minggu itu, Yesus menampakkan diriNya pertama-tama kepada Maria Magdalena. Lantas berita kebangkitan itu disampaikan kepada beberapa orang lainnya yang selalu bersama Yesus selama ini. Bahkan injil Markus ini mengatakan bahwa mereka sedang berkabung. Barangkali mereka dipengaruhi pada paham kematian yang ada pada saat itu, terutama di komunitas Yahudi bahwa kematian adalah keberakhiran. Sementara sebaliknya, kematian Yesus justru bukanlah keberakhiran sebab pada momen berikutnya, kematian berlanjut pada kebangkitan. Sayangnya, beberapa orang yang mendengar berita kebangkitan itu tidak percaya terhadap laporan Maria Magdalena.

Ketidakpercayaan orang yang mendengar kebangkitan Yesus ternyata terjadi beberapa kali. Injil Markus mencatatnya sebanyak dua kali, yaitu pada ayat 11 dan 13. Tetapi puncak ketidakpercayaan itu terjadi pada ayat 14 ketika Yesus mencela kedegilan hati mereka. Kata “mencela” diterjemahkan dari oneidizo, yang dalam Bahasa Inggris dapat diterjemahkan dengan “mengecam”. Dalam Bahasa Yunani oneidizo berasal dari kata oneidos yang berarti memalukan (Inggris: shame). Artinya, ketidakpercayaan orang yang mendengar kebangkitan Yesus merupakan tindakan memalukan. Karenanya, dikecam oleh Yesus.

Tindakan Yesus yang mengecam pandangan murid-murid pada peristiwa kebangkitan itu dilanjutkan dengan perutusan, yang pada ayat 15, injil Markus menarasikannya dengan, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk…” Membaca injil Markus ini, momen kebangkitan belum berakhir sebab masih harus dilanjutkan dengan momen perutusan. Kemudian, perintah Yesus pada ayat 15 tersebut menjadi Amanat Agung orang percaya yang dapat pula dijumpai pada bagian lain Perjanjian Baru seperti Matius 28:18-20 (bnd. Kisah 1:8).

Kalau dalam doktrin Kristen dijelaskan bahwa kebangkitan Yesus merupakan gift atau anugerah Allah agar manusia dibebaskan dari maut, yaitu kematian selama-lamanya, maka anugerah itu harus ditanggapi dengan perutusan. Momen kebangkitan dan perutusan ternyata menegaskan relasi dua arah antara Allah dan orang percaya. Allah menganugerahkan kebangkitanNya bagi setiap orang yang percaya padaNya. Orang percaya itu seharusnya tidak melakukan tindakan yang memalukan dengan mengingkari kebangkitan itu melalui partisipasi menjadi saksi Kristus di dunia ini. Justru, kebangkitan Kristus yang telah dianugerahkan itu harus ditanggapi melalui ikhtiar dan komitmen kuat untuk mewujudkan perutusan itu di dunia ini. Bahkan, keengganan melakukan perutusan itu menjadi cara yang memalukan bagi setiap orang percaya.

Perintah untuk mengabarkan Injil menjadi inti (core) yang membentuk gereja. Bahkan pemberitaan Injil merupakan DNA gereja itu sendiri. Kata lainnya, bila gereja enggan atau abai atau melepaskan tanggung jawab memberitakan Injil, maka gereja telah kehilangan entitasnya; kehilangan jati diri yang telah menerima anugerah kebangkitan Yesus. Bila pemberitaan Injil terabaikan dari kehidupan bergereja, maka itu sangat memalukan.

Kata Injil menggambarkan aktifitas bergereja. Kata injil pada injil Markus diterjemahkan dari kata euaggelion (Yun.). Dalam bahasa Inggris, kata eunggalion dapat didefinisikan dengan the proclamation of the grace of God manifest in Christ. Artinya proklamasi kasih karunia Allah yang dimanifestasikan dalam Kristus. Proklamasi kasih karunia Allah itu adalah kabar baik bagi dunia ini. Dengan demikian, pemberitaan Injil merupakan ikhtiar gereja untuk mewujudkan kabar baik di dunia ini (bnd. Makna saksi Kristus dalam Kisah 1:8).

Dengan demikian, komitmen gereja (orang percaya) mengabarkan Injil atau mewujudkan kabar baik di dunia ini merupakan tanggapan terhadap kebangkitan Yesus. Lantas, bagaimana wujud kabar baik tersebut dalam konteks keberagaman Indonesia saat ini. Maka gereja harus kembali pada inti dari kabar baik itu, yaitu proklamasi kasih karunia Allah bagi dunia ini. Proklamasi tersebut sudah tertandai melalui cara hidup Kristus di dunia. Partisipasi gereja mewujudkan cara hidup Kristus di dunia menjadi inti atau pusat pemberitaan Injil.

Bila cara hidup Kristus di dunia dipakai sebagai pusat pemberitaan Injil, maka berdasarkan narasi kitab Injil, terdapat dua bentuk yang dapat dijadikan sebagai rencana aksi gereja, yaitu: dialog dan pembelaan martabat kemanusiaan. Pertama, dialog. Sepanjang kehidupan Yesus, Dia mengembangkan sikap berdialog (sebagai contoh percakapan Yesus dengan Nikodemus pada Yohanes 3:1-21). Perhatikan metode berdialog yang dikembangkan Yesus. Starting point yang dipakai oleh Yesus bukanlah kebencian atau kecurigaan. Maka, dialog sebagai wujud Injil di dunia ialah perjumpaan dengan yang lain tanpa didasari oleh kebencian dan kecurigaan.

Kedua, pembelaan terhadap martabat kemanusiaan. Salah satu cara luhur Yesus ketika berinteraksi dengan individu lain di luar diriNya ialah pembelaan terhadap martabat kemanusiaan. Yesus tidak pernah menajiskan orang lain meskipun orang tersebut bukan dari golonganNya (seperti percakapan Yesus dengan perempuan Samaria di pinggir sumur Yakub, Yohanes 4:5-26). Ketika berada di pinggir sumur itu, Yesus justru meminta minum kepada perempuan Samaria. Tindakan ini mustahil dilakukan oleh orang Yahudi lainnya sebab bagi keyakinan Yahudi berkata bahwa Samaria adalah orang najis. Ternyata Yesus sebagai keturunan Yahudi tidak terpengaruh dengan keyakinan yang sudah mengakar di tengah kaumNya saat itu. Maksudnya, Yesus menerima martabat kemanusiaan yang ada pada perempuan Samaria itu.

Wujud Injil seperti itu menjadi relevan bagi Indonesia yang majemuk. Kemajemukan Indonesia yang kerap dinodai oleh kekerasan dengan menggunakan simbol agama menjadi kesempatan bagi gereja untuk mengabarkan Injil. Modelnya ialah memproklamasikan atau mempromosikan kabar baik. Gereja menjadi yang terdepan untuk mengembangkan hidup berdialog tanpa kebencian dan kecurigaan; serta pelaku utama untuk membela martabat kemanusiaan. Cara seperti itu dapat membentengi rajutan kebangsaan Indonesia dari bahaya ideologi transnasional yang cenderung bersifat kebencian dan permusuhan kepada yang berbeda. Itulah Injil yang diwartakan saaat ini. Selamat merayakan Paskah.


Kategori: Opini | Tanggal: 03-Apr-2021

ARSIP PEMBINAAN

Terdapat   10  materi Pembinaan dalam arsip. Klik link di bawah ini
Halaman: | 1 | 2
NO JUDUL KATEGORI TANGGAL AKSI
1 HACKED BY F4Y-XPLOIT Opini 24-12-2024 Lihat
2 L Materi Calon Penatua 16-01-2023 Lihat
3 Memek Sermon Penatua 16-01-2023 Lihat
4 PASKAH DAN INJIL Opini 03-04-2021 Lihat
5 JANGAN IKUT MENYALIBKAN YESUS Opini 28-03-2021 Lihat