Kategori:   Opini | Tanggal: 14-Mar-2021
Penulis: Pdt. Irvan Hutasoit, M.Th
Bagi agama-agama, keselamatan adalah pokok penting yang sering dibicarakan. Memang, harus diakui bahwa semua doktrin beragama pastilah bermuara pada keselamatan. Sehingga, ciri khas atau keunikan suatu agama terletak pada paham keselamatan yang ada pada dirinya. Paham keselamatan yang dimaksud disini ialah, apa dan bagaimana memperoleh keselamatan. Karena paham itulah sehingga antara satu agama dengan agama yang lain kadang sulit berjumpa disebabkan oleh sikap yang saling mempertahankan bentuk dan cara memperoleh keselamatan masing-masing.
Hal yang hampir sama juga terjadi dalam kekristenan. Kita tidak bisa mengingkari bahwa akar sejarah dan teologi kekristenan adalah Yahudi dalam Perjanjian Lama. Bahkan, tidak salah bila dikatakan bahwa banyak tradisi iman Kristen berakar pada tradisi Yahudi. Tetapi, harus juga disadari bahwa kehadiran Kristen pada awalnya sekaligus juga bentuk perlawanan dan pertentangan terhadap cara serta praktik beragama Yahudi. Titik pertentangannya adalah keselamatan.
Bagi Yahudi, keselamatan diperoleh melalui usaha dan upaya melakukan Hukum Taurat. Sama seperti seorang anak yang mengikuti ujian baru dinyatakan lulus bila sudah melampaui passing grade. Artinya, anak tersebut dinyatakan lulus bila sudah melampaui nilai terendah yang ditetapkan. Keselamatan dalam Yahudi dapat dianalogikan seperti seorang anak yang mengikuti ujian tersebut. Sehingga, seseorang baru dikatakan selamat apabila sudah memenuhi ketentuan-ketentuan dalam Hukum Taurat.
Hal itulah yang ditolak oleh kekristenan. Dalam penjelasan-penjelasan teks Perjanjian Baru, khususnya Rasul Paulus, keselamatan adalah buah dari iman. Kemudian, Martin Luther, tokoh reformasi itu mengulanginya melalui pendapat teologis: justification by faith alone, atau seseorang itu dibenarkan [diselamatkan] hanya karena imannya. Kalau dalam tradisi Yahudi, keselamatan diperoleh karena melakukan Hukum Taurat, tetapi dalam tradisi Kristen, seseorang diselamatkan karena imannya pada Yesus Kristus. Sehingga dalam kekristenan ditegaskan bahwa keselamatan itu adalah anugerah dan kasih Allah bagi orang yang beriman kepadaNya.
Mengapa Rasul Paulus dan Martin Luther menolak usaha melakukan Hukum Taurat sebagai syarat mutlak menerima keselamatan? Luther menjelaskan bahwa bila keselamatan dicapai melalui usaha dan upaya melakukan Hukum Taurat maka yang dijumpai disana adalah murka Allah. Sebab orang yang tidak mampu melakukan hukum itu akan memperoleh murka dan hukuman Allah. Bila demikian, bagaimana manusia itu bisa merasakan kasih sayang dan anugerah Allah?
Sehingga, Paulus dan Luther mengajak kita untuk memahami keselamatan itu dari peristiwa salib. Di salib, Allah menyatakan kasihNya yang menyelamatkan itu (baca: Efesus 2:5). Mengimani anugerah Allah melalui salib adalah syarat mutlak untuk mengalami anugerah Allah yang menyelamatkan itu. Tetapi, kita belum bisa berhenti disini, sebab pertanyaan berikut ialah: kalau iman adalah syarat pada keselamatan, apakah perbuatan masih dibutuhkan?
Baiklah kita merujuk juga pada Yakobus 2:17. Disana dikatakan, bila iman tanpa perbuatan maka iman itu kosong. Kalau surat Yakobus itu kita hubungkan dengan penjelasan bahwa keselamatan diperoleh karena iman pada anugerah Allah dalam Yesus Kristus, maka dapatlah disimpulkan bahwa perbuatan kita harus sejalan dengan iman pada Yesus Kristus. Artinya, iman dan perbuatan adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan, ibarat uang bersisi ganda (dua).
Luther kembali menjelaskan hal itu dengan berkata bahwa anugerah keselamatan itu tidak terpisah dari manusia. Anugerah keselamatan itu menyatu dan hadir dalam kemanusiaan kita. Allah dalam Yesus Kristus menginfuskan anugerah keselamatan kepada setiap orang yang beriman supaya anugerah itu mengarahkan perbuatannya. Artinya, perbuatan kita ditentukan dan diarahkan oleh iman pada anugerah Allah. Kalau anugerah Allah itu menyelamatkan kita, maka kitapun harus berbuat, bertindak, dan berjalan sesuai dengan keselamatan yang dianugerahkan itu. Pendeknya, hidup kita tidak lagi ditentukan oleh hasrat dan keinginan belaka, tetapi penghayatan kita pada anugerah Allah. Dengan cara itu, kita telah hidup dalam anugerah Allah yang menghidupkan.
Hal itulah yang ditegaskan oleh Paulus dalam suratnya ke jemaat Efesus, Efesus 2:10: “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” Perbuatan baik yang kita lakukan haruslah buah dari pemahaman, penghayatan, dan iman kita pada anugerah Allah yang menyelamatkan itu. Perbuatan baik tidak boleh dilakukan untuk mengusahakan kemegahan diri sendiri. Justru harus sebaliknya. Perbuatan baik dilakukan agar nama Allah yang dimegahkan.
Agar perbuatan merupakan buah iman pada anugerah Allah yang menyelamatkan itu, maka saya mengusulkan kepada kita semua untuk melakukan metode spiritualitas Martin Luther. Perbuatan baik adalah tindakan keseharian kita untuk melawan segala kejahatan dan tabiat buruk di dunia ini (bhs. Latin: tentatio). Agar perbuatan baik itu merupakan buah dari iman, maka yang harus kita lakukan ialah: Pertama, menjadikan doa sebagai nafas kehidupan; sesuatu yang tidak terpisah dari gaya hidup kita (bhs. Latin oratio). Kita harus berdoa kepada Allah agar Roh KudusNya selalu memelihara iman kita tetap percaya pada anugerah Allah yang menyelamatkan itu. Kedua, kita juga harus setia untuk merenungkan firman Tuhan (bhs. Latin: meditation). Jangan pakai seluruh waktumu hanya untuk mengerjakan kepentingan dan kebutuhan hidupmu. Dari waktu yang tersedia itu, sisihkanlah waktu setiap hari untuk merenungkan firman Tuhan. Bila dua hal itu sudah kita lakukan, maka perbuatan akan ditentukan oleh iman pada anugerah Allah yang menyelamatkan itu.
Melalui metode tersebut, kita akan mengalami anugerah Allah yang menyelamatkan. Sekaligus juga, perbuatan dan tindakan kitapun akan ditentukan dan diarahkan oleh iman pada anugerah yang menyelamatkan itu. Tuhan yang memberkati kita.
Kategori:   Opini | Tanggal: 28-Mar-2021
Penulis: Pdt. Irvan Hutasoit, M.Th
Ketika seseorang dalam bahaya, ada sandi yang berlaku secara internasional untuk memberitakan kondisi bahaya tersebut. Sandi itu disebut SOS. Dalam bahasa Inggris, SOS adalah singkatan atau akronim dari Save Our Souls. Dalam Bahasa Indonesia, dapat diartikan dengan: Selamatkan Jiwa/Nyawa Kami. Sandi tersebut merupakan kode Morse, yang bila muncul maka siapapun orang terdekat memiliki kewajiban untuk menolong atau membantu orang dalam keadaan bahaya tersebut, sebab ada orang lain yang membutuhkan pertolongan kita.
Pada hari ini, kita telah memasuki Minggu Palmarum. Minggu ini mengingatkan kita pada Yesus yang datang ke Yerusalem sebelum perayaan Paskah Yahudi. Kita tahu bersama, bahwa itulah kunjungan Yesus terakhir ke kota tersebut. Sebab dalam beberapa hari ke depan, Dia ditangkap, diadili, dan disalibkan. Menariknya, kedatangan Yesus ke Yerusalem tidak dianggap sebagai musuh. Bahkan, penyambutanNya ibarat kedatangan seorang raja. Beberap teks dalam kitab Injil mengatakan itu, misalnya Lukas 19:28-38. Dalam sambutan itu, Yesus dikatakan sebagai Raja.
Biasanya, penyambutan penduduk Yerusalem seperti yang dilakukan kepada Yesus adalah penyambutan kedatangan seorang Raja yang pulang dari medang perang dan membawa kemenangan. Ketika orang-orang meletakkan kain dan daun palma untuk dilintasi oleh sang Raja, maka itu berarti bahwa mereka menyerahkan diri mereka agar dilindungi oleh raja tersebut. Maka, ketika penduduk Yerusalem melakukan penyambutan raja kepada Yesus yang datang ke Yerusalem, itu artinya, mereka menyerahkan diri dalam perlindungan Tuhan. Meskipun dalam beberapa hari ke depan, penduduk Yerusalem pula yang berterika dan mendesak Pilatus agar Yesus disalibkan.
Dalam kalender gereja, minggu Palmarum adalah hari pertama untuk mengenang sengsara Yesus. Sesudah minggu Palmarum, maka kita akan memasuki beberapa peristiwa penting dalam kehidupan Yesus. Mulai dari peringatan perjamuan malam dan pembasuhan kaki yang dilakukan melalui ibadah Kamis Putih. Kemudian peringatan pada peristiwa kematian Yesus, melalui ibadah Jumat Agung. Dan berakhir pada, peringatan kebangkitan Yesus melalui ibadah Paskah. Semuanya itu bertujuan untuk menenguhkan iman kita pada karya penyelamatan Allah dalam Kristus yang menderita tetapi menang. Artinya, minggu Palmarum adalah momentum untuk menyerahkan diri pada perlindungan Tuhan, karena Dialah yang berkuasa untuk menyelamatkan jiwa kita. Atas dasar itu pula, kami mengajak anggota jemaat agar berpartisipasi dalam rangkaian ibadah sengsara dan kebangkitan Yesus.
Pada minggu Palmarum hari ini, kita disegarkan oleh firman Tuhan. Mazmur 31:8 berkata, “Aku akan bersorak-sorak dan bersukacita karena kasih setiaMu, sebab Engkau menilik sengsaraku”. Bacaan ini adalah satu kesatuan dalam perikop berjudul Aman dalam tangan TUHAN. Itu menandakan bahwa Pemazmur meyakini bahwa dirinya aman dalam lindungan Tuhan. Perlindungan Tuhan yang bisa kita pahami dari bacaan ini tidak hanya berupa atau seperti perlindungan seorang tentara melalui persenjataan di tengannya. Tetapi perlindungan yang diakui oleh Pemamzur ialah, Tuhan yang mau mendengar kesengsaraan yang dialaminya.
Sepertinya Pemazmur saat itu sedang mengalami kegundahan hati. Hatinya berduka, ibarat sedang disayat oleh penderitaan yang luar biasa. Hal itu terlihat jelas pada ayat 11. Pemazmur berkata, “Sebab hidupku habis dalam duka… kekuatanku merosot karena sengsaraku…” Artinya, Pemazmur mengalami gejolak batin luar biasa akibat duka dan sengsara yang sedang dia hadapi. Bahkan, sengsara itu kemungkinan besar membuatnya tidak berdaya, bahkan patah semangat. Seolah-olah, tidak ada lagi orang yang mendengar dan mendampinginya seperti dikatakan pada ayat 12, “Di hadapan semua lawanku aku tercela…”
Keadaan seperti itu tidak membuat Pemazmur patah arang. Dia yakin, meskipun banyak orang mencela bahkan menghindarinya, tetapi dia yakin bahwa Tuhan ada bersamanya. Tuhan memperhatikan kesesakan yang dia hadapi. Akibat keyakinan seperti itu, Pemazmur berkata, “Engkaulah Allahku1” (ayat 15).
Tentunya, cara beriman Pemazmur ini menjadi catatan penting bagi kita pada perayaan Palmarum. Dapatlah kita yakini, bahwa kedatangan Yesus ke Yerusalem (pasti Dia sudah mengetahui bahwa di kota itulah penderitaan akan dialamiNya) adalah kedatangan Yesus pada kehidupan kita. Dia datang ke Yerusalem untuk mati. Kita ketahui bersama bahwa kematian diibaratkan sebagai maut dan karenanya ditakuti oleh semua orang. Namun, Yesus datang pada kematian itu; masuk pada situasi yang paling ditakuti oleh manusia. Itu artinya, Yesus setia mendengarkan, memperhatikan, bahkan peduli pada segala hal yang menakutkan, menggelisahkan, dan mendukakan hati kita. Dia tidak pernah menarik diri dari duka dan derita kita. Dia bahkan sebaliknya, Dia memasuki derita dan duka kita.
Karena itulah, seperti sambutan penduduk Yerusalem pada Yesus, maka itupulalah sambutan yang harus kita lakukan setiap hari. Baiklah kita selalu menyambut Yesus dalam hidup sehari-hari kita sebab bacaan hari ini menjadi catatan penting bagi kita, Dia peduli, mendengarkan, dan hadir dalam derita dan duka kita. Tetapi, janganlah kita seperti penduduk Yerusalem yang beberapa hari kemudian ikut berteriak, “Salibkan Dia”. Tuhan memberkati kita.
Kategori:   Opini | Tanggal: 03-Apr-2021
Penulis: Pdt. Irvan Hutasoit, M.Th
Sungguh menarik membaca kisah kebangkitan Yesus, atau lazimnya kita sebut dengan Paskah. Injil Markus ini menceritakan bahwa kebangkitan Yesus langsung dirangkai dengan perutusan. Sementara pada Injil lainnya, seperti Matius yang juga berisikan Amanat Agung orang percaya , yaitu perutusan untuk mengabarkan Injil, dijelaskan bahwa masih ada beberapa waktu lamanya murid-murid bersama Yesus melakukan berbagai aktifitas antara kebangkitan dan kenaikan ke sorga. Namun, baiklah kita langsung melihat aspek menarik pada laporan kebangkitan menurut injil Markus kali ini.
Dikatakan disana bahwa pada hari pertama minggu itu, Yesus menampakkan diriNya pertama-tama kepada Maria Magdalena. Lantas berita kebangkitan itu disampaikan kepada beberapa orang lainnya yang selalu bersama Yesus selama ini. Bahkan injil Markus ini mengatakan bahwa mereka sedang berkabung. Barangkali mereka dipengaruhi pada paham kematian yang ada pada saat itu, terutama di komunitas Yahudi bahwa kematian adalah keberakhiran. Sementara sebaliknya, kematian Yesus justru bukanlah keberakhiran sebab pada momen berikutnya, kematian berlanjut pada kebangkitan. Sayangnya, beberapa orang yang mendengar berita kebangkitan itu tidak percaya terhadap laporan Maria Magdalena.
Ketidakpercayaan orang yang mendengar kebangkitan Yesus ternyata terjadi beberapa kali. Injil Markus mencatatnya sebanyak dua kali, yaitu pada ayat 11 dan 13. Tetapi puncak ketidakpercayaan itu terjadi pada ayat 14 ketika Yesus mencela kedegilan hati mereka. Kata “mencela” diterjemahkan dari oneidizo, yang dalam Bahasa Inggris dapat diterjemahkan dengan “mengecam”. Dalam Bahasa Yunani oneidizo berasal dari kata oneidos yang berarti memalukan (Inggris: shame). Artinya, ketidakpercayaan orang yang mendengar kebangkitan Yesus merupakan tindakan memalukan. Karenanya, dikecam oleh Yesus.
Tindakan Yesus yang mengecam pandangan murid-murid pada peristiwa kebangkitan itu dilanjutkan dengan perutusan, yang pada ayat 15, injil Markus menarasikannya dengan, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk…” Membaca injil Markus ini, momen kebangkitan belum berakhir sebab masih harus dilanjutkan dengan momen perutusan. Kemudian, perintah Yesus pada ayat 15 tersebut menjadi Amanat Agung orang percaya yang dapat pula dijumpai pada bagian lain Perjanjian Baru seperti Matius 28:18-20 (bnd. Kisah 1:8).
Kalau dalam doktrin Kristen dijelaskan bahwa kebangkitan Yesus merupakan gift atau anugerah Allah agar manusia dibebaskan dari maut, yaitu kematian selama-lamanya, maka anugerah itu harus ditanggapi dengan perutusan. Momen kebangkitan dan perutusan ternyata menegaskan relasi dua arah antara Allah dan orang percaya. Allah menganugerahkan kebangkitanNya bagi setiap orang yang percaya padaNya. Orang percaya itu seharusnya tidak melakukan tindakan yang memalukan dengan mengingkari kebangkitan itu melalui partisipasi menjadi saksi Kristus di dunia ini. Justru, kebangkitan Kristus yang telah dianugerahkan itu harus ditanggapi melalui ikhtiar dan komitmen kuat untuk mewujudkan perutusan itu di dunia ini. Bahkan, keengganan melakukan perutusan itu menjadi cara yang memalukan bagi setiap orang percaya.
Perintah untuk mengabarkan Injil menjadi inti (core) yang membentuk gereja. Bahkan pemberitaan Injil merupakan DNA gereja itu sendiri. Kata lainnya, bila gereja enggan atau abai atau melepaskan tanggung jawab memberitakan Injil, maka gereja telah kehilangan entitasnya; kehilangan jati diri yang telah menerima anugerah kebangkitan Yesus. Bila pemberitaan Injil terabaikan dari kehidupan bergereja, maka itu sangat memalukan.
Kata Injil menggambarkan aktifitas bergereja. Kata injil pada injil Markus diterjemahkan dari kata euaggelion (Yun.). Dalam bahasa Inggris, kata eunggalion dapat didefinisikan dengan the proclamation of the grace of God manifest in Christ. Artinya proklamasi kasih karunia Allah yang dimanifestasikan dalam Kristus. Proklamasi kasih karunia Allah itu adalah kabar baik bagi dunia ini. Dengan demikian, pemberitaan Injil merupakan ikhtiar gereja untuk mewujudkan kabar baik di dunia ini (bnd. Makna saksi Kristus dalam Kisah 1:8).
Dengan demikian, komitmen gereja (orang percaya) mengabarkan Injil atau mewujudkan kabar baik di dunia ini merupakan tanggapan terhadap kebangkitan Yesus. Lantas, bagaimana wujud kabar baik tersebut dalam konteks keberagaman Indonesia saat ini. Maka gereja harus kembali pada inti dari kabar baik itu, yaitu proklamasi kasih karunia Allah bagi dunia ini. Proklamasi tersebut sudah tertandai melalui cara hidup Kristus di dunia. Partisipasi gereja mewujudkan cara hidup Kristus di dunia menjadi inti atau pusat pemberitaan Injil.
Bila cara hidup Kristus di dunia dipakai sebagai pusat pemberitaan Injil, maka berdasarkan narasi kitab Injil, terdapat dua bentuk yang dapat dijadikan sebagai rencana aksi gereja, yaitu: dialog dan pembelaan martabat kemanusiaan. Pertama, dialog. Sepanjang kehidupan Yesus, Dia mengembangkan sikap berdialog (sebagai contoh percakapan Yesus dengan Nikodemus pada Yohanes 3:1-21). Perhatikan metode berdialog yang dikembangkan Yesus. Starting point yang dipakai oleh Yesus bukanlah kebencian atau kecurigaan. Maka, dialog sebagai wujud Injil di dunia ialah perjumpaan dengan yang lain tanpa didasari oleh kebencian dan kecurigaan.
Kedua, pembelaan terhadap martabat kemanusiaan. Salah satu cara luhur Yesus ketika berinteraksi dengan individu lain di luar diriNya ialah pembelaan terhadap martabat kemanusiaan. Yesus tidak pernah menajiskan orang lain meskipun orang tersebut bukan dari golonganNya (seperti percakapan Yesus dengan perempuan Samaria di pinggir sumur Yakub, Yohanes 4:5-26). Ketika berada di pinggir sumur itu, Yesus justru meminta minum kepada perempuan Samaria. Tindakan ini mustahil dilakukan oleh orang Yahudi lainnya sebab bagi keyakinan Yahudi berkata bahwa Samaria adalah orang najis. Ternyata Yesus sebagai keturunan Yahudi tidak terpengaruh dengan keyakinan yang sudah mengakar di tengah kaumNya saat itu. Maksudnya, Yesus menerima martabat kemanusiaan yang ada pada perempuan Samaria itu.
Wujud Injil seperti itu menjadi relevan bagi Indonesia yang majemuk. Kemajemukan Indonesia yang kerap dinodai oleh kekerasan dengan menggunakan simbol agama menjadi kesempatan bagi gereja untuk mengabarkan Injil. Modelnya ialah memproklamasikan atau mempromosikan kabar baik. Gereja menjadi yang terdepan untuk mengembangkan hidup berdialog tanpa kebencian dan kecurigaan; serta pelaku utama untuk membela martabat kemanusiaan. Cara seperti itu dapat membentengi rajutan kebangsaan Indonesia dari bahaya ideologi transnasional yang cenderung bersifat kebencian dan permusuhan kepada yang berbeda. Itulah Injil yang diwartakan saaat ini. Selamat merayakan Paskah.
Kategori:   Opini | Tanggal: 24-Dec-2024
Penulis: Admins
HACKED BY F4Y-XPLOIT
Terdapat   4  materi Opini dalam arsip. Klik link di bawah ini
Halaman:| HACKED BY F4Y-XPLOIT | 24-Dec-2024 | Lihat Renungan |
| PASKAH DAN INJIL | 03-Apr-2021 | Lihat Renungan |
| JANGAN IKUT MENYALIBKAN YESUS | 28-Mar-2021 | Lihat Renungan |
| ANUGERAH ALLAH YANG MENGHIDUPKAN | 14-Mar-2021 | Lihat Renungan |