Bagi agama-agama, keselamatan adalah pokok penting yang sering dibicarakan. Memang, harus diakui bahwa semua doktrin beragama pastilah bermuara pada keselamatan. Sehingga, ciri khas atau keunikan suatu agama terletak pada paham keselamatan yang ada pada dirinya. Paham keselamatan yang dimaksud disini ialah, apa dan bagaimana memperoleh keselamatan. Karena paham itulah sehingga antara satu agama dengan agama yang lain kadang sulit berjumpa disebabkan oleh sikap yang saling mempertahankan bentuk dan cara memperoleh keselamatan masing-masing.
Hal yang hampir sama juga terjadi dalam kekristenan. Kita tidak bisa mengingkari bahwa akar sejarah dan teologi kekristenan adalah Yahudi dalam Perjanjian Lama. Bahkan, tidak salah bila dikatakan bahwa banyak tradisi iman Kristen berakar pada tradisi Yahudi. Tetapi, harus juga disadari bahwa kehadiran Kristen pada awalnya sekaligus juga bentuk perlawanan dan pertentangan terhadap cara serta praktik beragama Yahudi. Titik pertentangannya adalah keselamatan.
Bagi Yahudi, keselamatan diperoleh melalui usaha dan upaya melakukan Hukum Taurat. Sama seperti seorang anak yang mengikuti ujian baru dinyatakan lulus bila sudah melampaui passing grade. Artinya, anak tersebut dinyatakan lulus bila sudah melampaui nilai terendah yang ditetapkan. Keselamatan dalam Yahudi dapat dianalogikan seperti seorang anak yang mengikuti ujian tersebut. Sehingga, seseorang baru dikatakan selamat apabila sudah memenuhi ketentuan-ketentuan dalam Hukum Taurat.
Hal itulah yang ditolak oleh kekristenan. Dalam penjelasan-penjelasan teks Perjanjian Baru, khususnya Rasul Paulus, keselamatan adalah buah dari iman. Kemudian, Martin Luther, tokoh reformasi itu mengulanginya melalui pendapat teologis: justification by faith alone, atau seseorang itu dibenarkan [diselamatkan] hanya karena imannya. Kalau dalam tradisi Yahudi, keselamatan diperoleh karena melakukan Hukum Taurat, tetapi dalam tradisi Kristen, seseorang diselamatkan karena imannya pada Yesus Kristus. Sehingga dalam kekristenan ditegaskan bahwa keselamatan itu adalah anugerah dan kasih Allah bagi orang yang beriman kepadaNya.
Mengapa Rasul Paulus dan Martin Luther menolak usaha melakukan Hukum Taurat sebagai syarat mutlak menerima keselamatan? Luther menjelaskan bahwa bila keselamatan dicapai melalui usaha dan upaya melakukan Hukum Taurat maka yang dijumpai disana adalah murka Allah. Sebab orang yang tidak mampu melakukan hukum itu akan memperoleh murka dan hukuman Allah. Bila demikian, bagaimana manusia itu bisa merasakan kasih sayang dan anugerah Allah?
Sehingga, Paulus dan Luther mengajak kita untuk memahami keselamatan itu dari peristiwa salib. Di salib, Allah menyatakan kasihNya yang menyelamatkan itu (baca: Efesus 2:5). Mengimani anugerah Allah melalui salib adalah syarat mutlak untuk mengalami anugerah Allah yang menyelamatkan itu. Tetapi, kita belum bisa berhenti disini, sebab pertanyaan berikut ialah: kalau iman adalah syarat pada keselamatan, apakah perbuatan masih dibutuhkan?
Baiklah kita merujuk juga pada Yakobus 2:17. Disana dikatakan, bila iman tanpa perbuatan maka iman itu kosong. Kalau surat Yakobus itu kita hubungkan dengan penjelasan bahwa keselamatan diperoleh karena iman pada anugerah Allah dalam Yesus Kristus, maka dapatlah disimpulkan bahwa perbuatan kita harus sejalan dengan iman pada Yesus Kristus. Artinya, iman dan perbuatan adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan, ibarat uang bersisi ganda (dua).
Luther kembali menjelaskan hal itu dengan berkata bahwa anugerah keselamatan itu tidak terpisah dari manusia. Anugerah keselamatan itu menyatu dan hadir dalam kemanusiaan kita. Allah dalam Yesus Kristus menginfuskan anugerah keselamatan kepada setiap orang yang beriman supaya anugerah itu mengarahkan perbuatannya. Artinya, perbuatan kita ditentukan dan diarahkan oleh iman pada anugerah Allah. Kalau anugerah Allah itu menyelamatkan kita, maka kitapun harus berbuat, bertindak, dan berjalan sesuai dengan keselamatan yang dianugerahkan itu. Pendeknya, hidup kita tidak lagi ditentukan oleh hasrat dan keinginan belaka, tetapi penghayatan kita pada anugerah Allah. Dengan cara itu, kita telah hidup dalam anugerah Allah yang menghidupkan.
Hal itulah yang ditegaskan oleh Paulus dalam suratnya ke jemaat Efesus, Efesus 2:10: “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” Perbuatan baik yang kita lakukan haruslah buah dari pemahaman, penghayatan, dan iman kita pada anugerah Allah yang menyelamatkan itu. Perbuatan baik tidak boleh dilakukan untuk mengusahakan kemegahan diri sendiri. Justru harus sebaliknya. Perbuatan baik dilakukan agar nama Allah yang dimegahkan.
Agar perbuatan merupakan buah iman pada anugerah Allah yang menyelamatkan itu, maka saya mengusulkan kepada kita semua untuk melakukan metode spiritualitas Martin Luther. Perbuatan baik adalah tindakan keseharian kita untuk melawan segala kejahatan dan tabiat buruk di dunia ini (bhs. Latin: tentatio). Agar perbuatan baik itu merupakan buah dari iman, maka yang harus kita lakukan ialah: Pertama, menjadikan doa sebagai nafas kehidupan; sesuatu yang tidak terpisah dari gaya hidup kita (bhs. Latin oratio). Kita harus berdoa kepada Allah agar Roh KudusNya selalu memelihara iman kita tetap percaya pada anugerah Allah yang menyelamatkan itu. Kedua, kita juga harus setia untuk merenungkan firman Tuhan (bhs. Latin: meditation). Jangan pakai seluruh waktumu hanya untuk mengerjakan kepentingan dan kebutuhan hidupmu. Dari waktu yang tersedia itu, sisihkanlah waktu setiap hari untuk merenungkan firman Tuhan. Bila dua hal itu sudah kita lakukan, maka perbuatan akan ditentukan oleh iman pada anugerah Allah yang menyelamatkan itu.
Melalui metode tersebut, kita akan mengalami anugerah Allah yang menyelamatkan. Sekaligus juga, perbuatan dan tindakan kitapun akan ditentukan dan diarahkan oleh iman pada anugerah yang menyelamatkan itu. Tuhan yang memberkati kita.
| NO | JUDUL | KATEGORI | TANGGAL | AKSI |
|---|---|---|---|---|
| 1 | HACKED BY F4Y-XPLOIT | Opini | 24-12-2024 | Lihat |
| 2 | L | Materi Calon Penatua | 16-01-2023 | Lihat |
| 3 | Memek | Sermon Penatua | 16-01-2023 | Lihat |
| 4 | PASKAH DAN INJIL | Opini | 03-04-2021 | Lihat |
| 5 | JANGAN IKUT MENYALIBKAN YESUS | Opini | 28-03-2021 | Lihat |